Kasus admin KAI commuter, bukti kurangnya etika komunikasi, benarkah?
Beberapa waktu lalu, twitter sempat dihebohkan dengan adanya kasus pelecehan yang terjadi di kereta KAI Commuter, yang dimana admin Public Relations menanggapi korban dengan cara yang kurang pantas. Sehingga membuat masyarakat geram karena cara admin Kereta KAI Commuter ini dianggap kurang etis, melihat bahwasannya sikap yang dilakukan seorang Public Reations KAI ini seharusnya lebih menengahi masalah yang terjadi tetapi ternyata berbanding terbalik.
"”BTW kejadian nya di alami sama temen Mba kan.?? Bukan sama mba nya ?? kenapa gak langsung lapor Polisi aja Mbanya.? dan kalo lapor polisi si mba nya pun harus ada bukti,” tulis akun @CommuterLine
Melihat cara Public Relations menuai banyak hujatan dan pandangan buruk dari netizen. Netizen berfikir seharusnya Public Relations menjadi salah satu jalan agar si korban tetap merasa dihormati akan tetapi tidak demikian.
Dari hal ini, kita dapat mengetahui bahwa Etika kita dalam Bersosial Media itu sangat berpengaruh besar terhadap apa yang kita lakukan dan terlebih lagi seorang Public Relations seharusnya menjadi contoh yang baik bagi kru kru nya terlebih dalam menanggapi permasalahan yang terjadi ditempat kerja mereka, Seharusnya Public Relations bertindak melalui pertimbangan yang matang, rasional, objektif, penuh integritas, dan tanggung jawab yang tinggi.
Jika tidak, konsekuensinya adalah dapat menciptakan berita yang tidak terkontrol dan sensasional sehingga berdampak merugikan citra baik perusahaan. Berita tersebut pun menyebabkan timbulnya kontroversi dan polemik yang berkepanjangan. Public Relations harus berusaha menciptakan pola dan saluran komunikasi yang dapat memberi arus bebas informasi sehingga publik merasa bahwa mereka selalu mendapatkan informasi yang dipercaya. Serta memberikan publik suatu kesadaran akan keterlibatan pribadinya sehingga terbinanya hubungan yang solid dan harmonis.
Saat ini KAI Commuter Line sedang berada di masa krisis. Menurut the situational crisis communication theory yang digagas oleh Timothy W. Coombs dan Holladay, perusahaan harus berupaya melindungi publik dan stakeholders dari kerugian dan kerusakan daripada melindungi reputasi organisasi. Perusahan harus memperhatikan keselamatan dan keamanan publik dan stakeholders serta menjadikannya sebagai prioritas utama dalam menghadapi situasi krisis. Dapat disimpulkan bahwa saat terjadi situasi krisis langkah pertamanya adalah mengatasi akibat krisis yang menimpa para korban. Lalu bertanggung jawab dalam waktu singkat memberikan ganti rugi dan memberikan informasi yang jelas kepada korban mengenai bagaimana proses evakuasi dan kejelasan suatu masalah.
Upaya lanjutan atas kasus tersebut adalah KAI Commuter Line mengunggah tweet berupa foto di akun twitter @CommuterLine bahwa pihaknya telah bertemu dan secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna yang mengalami pelecehan seksual di KA 1452 pada 4 Juni 2021. Tidak hanya itu, KAI Commuter Line melakukan pertemuan lanjutan dengan korban yang berlangsung di Stasiun Jatinegara pada 5 Juni 2021. KAI Commuter Line telah menyampaikan sejumlah dukungan data yang diperlukan korban untuk meneruskan laporan ke polisi. Serta berjanji untuk selalu mendampingi proses laporan ke polisi dan selalu menjalin kontak dengan korban.
Public Relations dianggap sebagai ujung tombak bagi perusahaan sehingga harus memahami kekuatan dari penerapan etika. Berusaha memberikan penerangan, kualitas terbaik, dan kontribusi positif terhadap perusahaan dan publik. Jangan jadikan kewajiban tetapi jadikan sebagai bentuk pelayanan. Kerjakan lah sesuatu dengan penuh makna dan menghasilkan sesuatu yang tidak merugikan antara penumpang dan perusahaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan etika komunikasi di media massa seperti:
1. Penyampaian Pesan
Pesan-pesan yang mengalir di media sosial tidak selamanya diterima oleh komunikan atau penerima pesan secara baik. Tidak jarang komunikator atau pengirim pesan kurang memperhatikan hal-hal kecil yang justru berakibat fatal. Komunikator harus terlebih dahulu menunjukkan kepada siapa pesan tersebut akan diterima, apakah kepada anggota-anggota di media sosial atau ditunjukkan antarpribadi. Setelah itu, komunikator menentukan apakah pesan tersebut bersifat rahasia atau umum. Banyak media sosial yang memberikan fitur pesan (message) dimana para pengguna bisa mengirim pesan kepada pengguna lain tanpa diketahui oleh anggota lain yang bergabung di dalam media sosial tersebut. Apabila pesan itu bersifat umum, komunikator harus memperhatikan pula bahasa yang digunakan agar tdiak menjadi pesan sampah (spam message).
2. Penggunaan Tutur Bahasa
Dalam berkomunikasi di media sosial harus jelas apa yang akan dikatakan agar bisa dipahami orang lain dengan jelas pula, tentu bagi penerima pesan yang mengerti bahasa. Memilih kata-kata yang tepat memerlukan etika tersendiri. Salah memilih kata juga melanggar etika dalam masyarakat, karena di Indonesia memiliki keragaman norma sosial yang berlaku dan belum tentu pula berlaku di Negara lain.
Komentar
Posting Komentar